Monday, June 14, 2010

Lebih Beruntung dari Pemulung

Di tengah-tengah keluhan ingin berhenti bekerja.. Ingin menikah saja lalu jadi ibu rumah tangga biar tinggal menadah uang ke suami dan dandan ke salon lalu jemput anak ke sekolah lalu belanja-belanja ke supermarket menghabiskan gaji suami (hee..he). Tiba-tiba saya lihat video, video tentang Ibu dari teman SMA saya yang mendirikan sebuah sekolah buat anak-anak para pemulung sampah.

Di video itu Bapak dari salah satu siswa berbicara `Saya ya maunya sih dia maju, jangan kayak saya lah, Saya cuma bisa mungut, ngga bisa apa-apa. Maunya sih jualan tapi nggak punya modal saya. Jangankan duit gede, duit cepek aja ngga punya saya`.

Dess..

Saya membayangkan kalau saya yang jadi si Bapak. Harus berjuang mencari nafkah, tanpa punya pilihan lain selain harus menyusuri jalan panas-panas, mengorek sampah yang bau hanya demi perut. Pikir..pikir..pikir.. Rasanya omelan senior yang jadi sumber derita saya di kantor itu jauuuuuh lebih ringan dari derita si Bapak. Ah... manja sekali saya begitu saja sudah berkeluh kesah setiap saat.

Iseng saya klik google lalu search `pemulung` di bagian foto. Dan saya menemukan ini :

Sumber : http://dhannyandayuniarr.wordpress.com/2009/01/18/pemulung-dilarang-masuk-komplek/pemulung-cilik3/

Kembali dessssss...
Belakangan saya memang hampir setiap hari dimarahi, dan saya rasa kata-katanya cukup menyakitkan. Tapi setidaknya saya tidak pernah diancam sampai mau di mutilasi segala. Hiiii... Naudzubillah..

Yah.. Video ibu teman SMA saya ini nampaknya teguran dari Allah buat saya. Bahwa saya itu jauh lebih beruntung, paling tidak jika dibandingkan dengan nasib pemulung. Paling tidak saya itu tidak harus jalan kaki panas-panas cari tempat sampah untuk dikorek-korek seperti ini:

http://www.chip.co.id/gallery/showphoto.php/photo/2179

Paling banter saya cuma harus keliling pabrik, panas memang, tapi saya bisa sesuka hati melarikan diri ke tempat ber-AC. Oh.. bahkan saya lebih beruntung dari operator mesin yang harus berdiri di depan mesin terus-menerus.

Tidak-tidak.. beban saya masih terlalu ringan dibandingkan si Bapak pemulung. Saya pikir-pikir lagi kondisi saya. Rumitnya proyek, panasnya pabrik, sulitnya orang pabrik, sulitnya bahasa Jepang, dan deretan omelan senior yang kerap bikin saya sakit hati. Halaah.. bukankan itu biasa saja..

Ah.. manja sekali saya ini..

Sunday, June 6, 2010

Make A Wish

Yang Maha Kuasa,

Terimakasih atas apa yang telah Engkau berikan kepadaku,
Nikmat hidup hingga kini
Nikmat Islam
Kesehatan
Kasih sayang orang tua
Kasih sayang keluarga
Teman-teman setia
Kemudahan studi
Bahkan kemudahan mendapatkan rizkiMu..

Maafkanlah aku yang sering lupa..
Lupa bersyukur
Lupa menyembahmu
Menyalahgunakan kemudahan beribadah dariMu

Tuhanku..

Diumurku yang kembali bertambah ini
Izinkanlah aku tetap memohon kasih sayangMu
Izinkanlah aku tetap memohon belas kasihMu

Tak ada yang bisa menolongku selain Engkau

Ya Rahman Ya Rahiiim..

Berkahilah sisa umurku..
Bahagiakanlah aku di Dunia dan Akhiratmu..

Saturday, February 27, 2010

The meaning of Smileys..

I love smile and smiling..
Smiling make me look cute (huahaha).
See a smile make me feel better.
I love to see My mom and Dad smile and laughing.
I feel happy when i see my friends smiling and laugh.
It really makes me feel happy.

Through this weakness ill be strong with their smile.
I always bring a camera to take their perfect smile.
And i use their smile to encourage me.
Just by seeing those photograph.
Oh smile.. You are my drugs.. You heal my pain..
Thanks God to create the thing smile.

and everyone.. lets say cheese! give me your perfect smile!
Arigatou..!

Accidentally in...

Untuk kesekian kalinya saya berada di Bandara Soekarno Hatta untuk penerbangan pukul 20.15 dengan maskapai Singapore Airlines. Indonesia minggu itu sedang long weekend, jadi kamis itu bandara penuh dengan orang-orang yang mau liburan mungkin. Dan bodohnya saya tidak peduli, saya tidak mengantisipasi untuk ber-good bye-ria dengan Kico dan menuju tempat cap-cap-an imigrasi lebih cepat. Pasalnya saya sedang benar-benar mellow, tidak mau pergi, berat sekali meninggalkan Indonesia dan bersama sipit-sipit itu lagi. Baru kali itu saya menangis karena mau pergi (atau kembali) dari Indonesia. Biasanya saya selalu gembira atau biasa-biasa saja. Well sebenarnya saya tidak mau curhat tentang ini, intinya saya cuma mau bilang kalo saya tidak peduli bandara penuh dan santai-santai menuju imigrasi karena saya masih mau berlama-lama berkeluh kesah dengan Kico di kedai Burger (entah apa namanya ) yang mahal dan rasanya masih enakan McD.

Setelah akhirnya tiba-tiba perasaan deg-degan datang seolah memberi tanda `ini kalo ga cepat pergi bakal ketinggalan pesawat dan nanti dimarahi lagi` saya sudahi saja sesi menangis dan pergi menuju cap-cap-an imigrasi. Buseeeeet antriannya panjang banget!. Deg-deg an makin kencang. Yah mau gimana lagi, mau nyerobot tapi nanti diamuk masa, argh! tiada pilihan selain mengutuki diri sendiri dan orang-orang yang pada mau liburan.

Setelah beberapa lama mengantri dengan gelisah, saya lirik jam tangan, pukul 20.00, OMG biasanya lewatin cap-cap-an imigrasi ini ga lebih dari 5 menit ini udah 15 menit ko masih ada 5 orang lagi di depan, aduuuh 5 menit lagi gate ditutup niii (menurut aturan `boarding gate close 10 minutes before departure time` tapi berdasarkan pengalaman saya itu cuma berlaku di bandara Singapore dan Jepang si, biasanya di Indo ngaret, cuma siapa tahu lagi tepat waktu, jadi tetep deg-deg-an hehe). Okay, berarti siap-siapin kaki untuk berlari kencang menuju gate D1.

`Tik-tok-tik-tok... Yes! giliran saya!`, Akhirnyaaaaaa.
`Mbak, penuh banget ya Bandara`, mencoba curhat.
Mbak-mbak cap-cap-an imigrasi, `siiiiiiing......`, no respon.
Mungkin dalam hati dia bilang, `curhat aja lo mbak`.

Sial.. hahahaha.. Setelah si mbak cap-cap-an imigrasi no respon mengecap semua dokumen, saya lariiiiiii sekuaaaat tenagaaaaaaa.. hyaaaaaaaaat!!!! sambil liat papan mencari-cari gate D1. Kaki udah lemes sekali, kepala sudah pusing, jangan pingsan..jangan pingsan.. tetap berlariiiiii ayo Uqiiiiii... Dan tiba-tiba (sebenarnya ini intinya yang pengen diceritain dari tadi.. hihihi) hop..hop..hop ada pria tinggi beralis tebal, bukan orang Indonesia mungkin bule Amerika juga berlari mendahului saya. Kakinya panjang, jadi larinya cepat, dan dia menggunakan jas, rambutnya tidak cepak dan belah pinggir dan Dia ganteng!. Melihat itu bule lari-lari jadi terhibur. Pertama : karena dia Ganteng, Kedua : Jika dia satu penerbangan sama saya maka bukan cuma saya yang telat (entah kenapa saya selalu merasa lebih tenag jika yang berada dalam kesusahan bukan saya sendiri tapi ada temennya yang sama-sama susah juga, hehe). Eh tapi..eh tapi.. yang kedua kan belum tentu. Siapa tahu beda penerbangan, yaaaah.. Mari kita tanyakan saja!.

Masih sambil berlari-lari saya mencoba mengejar si bule, dan setelah hampir sejajar saya beranikan tanya. Dan beginilah percapakannya:
saya : `Singapore Airlines Sir?`.
Bule : `Yes, SQ`.
saya : `Mee too`. Tiba-tiba berfikir SKSD banget gw. Terus masih PD nanya lagi.
saya : `for 20.15 Sir?. Ini pertanyaan untuk menegaskan bahwa saya mencari teman dalam kondisi yang sama. Lalu si Bule tersenyum dan melihat Boarding Pass nya.
Bule : `em.. Yeah! 20.15. Gate D1!`.
Yes.. saya ada temennyaaaa!! Bule Ganteng! huahahaha.. Tiba-tiba kaki ini jadi kuat, tidak lemas lagi demi menyamai kecepatan lari si Bule. Dan tiba-tiba si kaki jadi tambah kuat lagi karena si Bule berkata sambil tersenyum : ` Dont worry.. We`ll make it..` Oh Bule, u use the word `we`. Itu benar-benar mengartikan kalau saya tidak sendiri (kalo yang ini ada nuansa romantisnya huahahaha). Dan tiba-tiba si jantung yang tadinya deg-degan jadi tersipu-sipu.. huahahahaha.. Accidentally in.. (apa yaaaa....)

Dan si Bule benar. Gatenya masih dibuka, dan ternyata masih banyak penumpang yang mengantri di belakang saya dan si Bule. Kali ini saya selamat. Horeee... Thanks God.. Alhamdulillah..

Monday, January 25, 2010

Selfish love letter..

23rd January 2010, your 23rd birthday.

I`m sorry I have to be far away from you. I`m sorry..
I`m sorry I`m too lazy to buy telephone card so I did not call you in the middle of the night..
I`m sorry I`m not the first one to say happy birthday to you..
I`m sorry I did not say any wishes until you ask for it..
I`m sorry for being such as a very bad girlfriend ever for you..
I`m so sorry for always make you insecure..
I`m so sorry for always make you sad..
I`m so sorry for several big fight that made you loss control of yourself..
I`m so sorry.. that you seems like always begging, asking me to love you as much as you always do it for me..

I`m so sorry that in this relationship we are not even.. You too much give and so do I.. too much take.

I`m sorry.. I`m sorry.. I don`t know how many sorrys i have to say to you. For 4 years of whatever that you always give to me to make me happy. I`m so sorry.

All I can say is sorry.. sorry.. sorry.. I don`t want you to be afraid of loosing me, that always make you weak and i always hate it. And i realize that all of this is not your fault, i made you feel it. My attitude made it. I`m a selfish jerk girlfriend. I knew it since i asked you to be mine selfishly.

I don`t know what to do now.. When you ask my feelings.. I don`t know.. I don`t wanna loose you.. And i really do not wanna loose you. That is all i can say.. Not changed.. like 4 years ago.. when you asked me, i just could say that I need you.. selfishly..

And this is me.. Just can say sorry for you.. selfishly..

Sunday, January 24, 2010

Cooking heals heart..

Saya sebenarnya tidak suka masak, apalagi bisa. hehe.. Tapi sejak hidup di sini (baca Jepang) saya jadi sering masak. Alasan saya jadi sering masak adalah :
1. Kalau beli di luar mahal.
Iya.. kalau beli diluar, saya biasanya mengeluarkan sekitar 1000 yen buat makan besar. kalau dirupiahkan dengan nilai tukar 1 yen = 100 rupiah berarti saya harus keluar 100 ribu rupiah setiap kali makan. Yaaa.. sebenarnya si wajar-wajar saja dengan pendapatan yang saya terima, tidak mahal tapi juga sangat tidak murah. Tapi kalau saya harus mengeluarkan 1000 yen setiap kali makan ya tekor juga, apalagi kalau saya bandingkan nilai uang itu kalau saya hidup di Indonesia, hehe.. Jadilah saya agak-agak sayang kalau harus sering-sering makan diluar.

2. Di luar makananya ga enak kalau bukan babi.
Iya.. rasanya itu kalau gak hambar ya asam. Tidak enaaak!. Jadi kalau pada bilang makanan Jepang enak, itu makanan Jepang yang di Indonesia saja mungkin. Karena rasa makanannya sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Saya sudah beberapa mencoba beberapa makanan baik di kantin kantor atau di restoran, tentunya yang boleh saya makan, dan saya tidak pernah suka. Sekali-sekalinya saya makan spagheti di kantin restoran dan itu enaaaak sekali tapiii ternyata eh ternyata itu ada babinya hahaha..

3. Malas pergi keluar malam-malam.
Iya.. malas sekali! Sudah mahal dan tidak enak, apalagi yang menyemangati saya untuk naik sepeda melawan angin dingin winter menuju tempat makan terdekat?. Paling jawabannya cuma kalau sedang bosan berada di apartemen dan lagi pengen jalan-jalan. Itu pun berarti sebenarnya saya bukannya sengaja pergi keluar untuk makan, tetapi karena saya ingin jalan-jalan jadi saya harus makan diluar kalau sudah lapar.

Begitulah.. sepertinya saya terpaksa sekali ya untuk masak. Tapi-tapi akhir-akhir ini saya jadi sukaa sekali masak. Perasaan suka ini sudah ada sejak sebulan yang lalu. Entah kenapa memasak itu rasanya bisa bikin saya senang sekali. Mulai dari memilih bahan makanan untuk dimasak, memotong-motong bawang dan sayuran, menentukan mana bahan yang harus dimasak terlebih dahulu, menebak-nebak takaran garam, merica dan bumbu penyedap, menentukan kombinasi warna masakan (kalau warna-warni jadi cantik dan seru kan.. hehe) dan menebak-nebak itu masakan sudah cukup matang apa belum. Rasanya seperti sedang mengerjakan sebuah proyek besar!. Haha berlebihan memang, apalagi jika melihat kenyataan bahwa bumbu yang saya pakai disetiap masakan itu tidak jauh-jauh dari bawang merah, bawang bombay, bawang putih, cabai, garam, merica, bumbu penyedap, dan sudah cuma itu saja. Apapun bahannya, mau itu sayuran, kentang, ikan teri, ayam, nasi goreng, mau itu di sayur bening atau goreng biasa, semuanya cuma pakai bumbu itu. Oiya, saya lupa menyebutkan satu bumbu andalan saya, terasi. Iya.. ini beberapa hasilnya :


(teri kacang ikan asin)


(ikan asin tumis bayam)


(ayam balado)

(balado ati ampela)

Dan mungkin ini bisa jadi alasan saya jadi sering masak yang terakhir :

4. Memasak membuat saya bahagia.
Iya.. seperti yang sudah saya bilang sebelumnya bahwa saat memasak saya seperti sedang mengerjakan proyek besar, menyenangkan, penuh tantangan, dan setiap selesai masak, melihat bentuk masakannya saja sudah bisa membuat saya puas apalagi saat saya merasa kalau makanan yang saya masak enak (padahal bentuknya ga ada bagus-bagusnya sama sekali dan rasanya pun sama disetiap masakan karena bumbunya sama semua, hee..).

Memasak sekarang sudah seperti obat hati saya, akhir-akhir ini, sejak saya selalu merasa tidak bisa meng-handle masalah di kantor, sejak senior saya pernah bilang kalau saya tidak ada gunanya pergi ke Indonesia untuk mengerjakan proyek itu, sejak senior saya bilang kalau saya terlalu banyak menerima gaji dari kantor karena saya tidak menghasilkan apapun, sejak semua pekerjaan yang saya telah buat tidak pernah dia ikut sertakan untuk dipresentasikan, sejak itu saya seperti melampiaskan semuanya saat memasak. Sepertinya saya ingin menampis semua kata-kata itu dengan menunjukkan kalau saya bisa menghasilkan sesuatu, dan saya belum dapat ide untuk itu lewat karya saya di kantor, jadi saya lampiaskan saja lewat memasak. Memasak sepertinya sudah menjadi proyek hiburan saya.

Sebenarnya, saya biasanya cukup bercerita untuk menghilangkan sedih saya, tetapi jarak dan kesibukan masing-masing sudah membuat kebiasaan bercerita ini jadi sulit dilanjutkan. Dan saya sepertinya sudah terbiasa dengan kondisi ini. Bukannya saya jadi tidak butuh bercerita, saya tetap butuh, tetapi saya tidak mau memaksakan diri, saya harus bisa sendiri, inikan salah satu resiko pergi jauh.
Untungnya saya masih punya kompor, panci, penggorengan, talenan, pisau, bawang-bawangan, bumbu penyedap, dan terasi yang bisa membantu saya menghibur diri. Kini mereka partner kerja saya yang loyal, paling kalau mereka ingin menegur saya karena tidak bisa mengerjakan ‘‘proyek‘‘ dengan benar mereka hanya bisa jadi gosong, dan itu pun tetap menghibur saya hehe..
Yeah.. cooking heals my heart..

Friday, November 27, 2009

deep drowning..

Semua orang pasti pernah merasa berada di titik paling bawah.
Sedih tak terbendung. seperti tak tertolong.
Dada seperti sulit bernafas, air mata pun rebutan ingin keluar.

Saya merasa sekarang berada di kondisi itu.
Rasanya saya sudah tidak kuat lagi.
Dan kalau sudah begini saya hanya ingin pulang ke Indonesia.

Pekerjaan saya memang sulit, rasanya sudah sering itu diakui oleh orang-orang yang mengetahui kondisinya. Terutama rekan kerja saya, senior saya lebih tepatnya, sebutlah dia itu Senior A. Diantara tim saya yang bersama-sama melakukan proyek ini, saya memang yang paling muda, dan tidak berpengalaman. Iya, proyek ini adalah proyek kerja pertama saya.

Sekilas tentang pekerjaan saya, pada dasarnya memang persoalannya memang rumit. Bahkan Senior A sering bilang `Dari pekerjaan di seluruh perusahaan ini yang paling susah itu pekerjaan di divisi kita, dan dari semua proyek di divisi kita ini, yang paling susah adalah proyek team kita`. Pertama kali mendengarnya, aku masih merasa itu hanya sebuah muslihat untuk mentriger saya agar berusaha sangat keras. Tetapi setelah 4 periode dan menjelang persiapan periode selanjutnya saya makin merasa hal tersebut benar.

Sekilas proyek sulit ini memang bukan hal yang mustahil untuk berhasil. Tetapi perbedaan budaya kerja dua negara ini yang membuat tim ini benar-benar tertekan. Bekerja di Jepang, membuat tuntutan pekerjaan yang dibebankan ke tiap pekerjanya sangat tinggi. Dan hal itu tak luput dari beban yang dikirimkan ke tim kami. Mungkin jika proyek tersebut juga dikerjakan di pabrik Jepang, segala target dan planning itu bisa berjalan dengan lancar. Tapi proyek kami adalah proyek yang ditujukan kepada pabrik Indonesia, bahkan pabrik terburuk di Indonesia mungkin jika dilihat dari segi efisiensi kerjanya.

Tak pelak segala rencana kami itu dibuat berantakan oleh keadaan disana, segala meeting tak berkesimpulan (sudah meetingnya terlambat, banyak bicara, tapi tetap tak berkesimpulan, tak ada data yang dibawa), banyak kesepakatan tak ditepati. Sebenarnya jika proyek ini gagal pun seharusnya tak masalah, tak semuanya harus berhasil, itu pun atasan-atasan kami tau. Tapi pastinya atasan kami pun perlu tahu alasan dibalik tak berhasilnya proyek ini. Dan untuk menjawab hal itu perlu data-data yang memadai, tapi data-data yang saya terima sering tak bisa berbicara, bahkan saya sering meragukan kebenarannya. Grafik demi grafik saya buat, mencoba menganalisa, tapi semua yang saya buat hanya memunculkan sebuah bentuk yang mirip benang kusut. Oh rasanya saya ingin menambahkan pernyataan Senior A dengan `dan diantara pekerjaan yang ada di proyek ini, pekerjaan sayalah yang paling sulit`. Semua bilang begitu, dan manager pabrik disana pun menyarankan tim kami untuk fokus ke pekerjaan saya. Tetapi mereka belum sempat menyentuh-nyentuh pekerjaan saya karena masih berkutat di areanya sendiri. Alhasil saya tetap stuck.

Saya yang tidak berpengalaman dan satu-satunya yang bukan orang Jepang disini hanya sendirian, dan hey.. Sudahkan saya sebut bahwa leader tim kami menghilang karena merasa putus asa? saya tidak bercanda. Leader kami memang menghilang tidak masuk kerja sudah hampir dua bulan. Leader saya yang ganteng dan pintar itu depresi setelah dimarahi bos karena perkembangan proyek kami yang tidak memuaskan. Dan selain saya, hanya dia yang benar-benar tahu pekerjaan saya. Saya seperti kehilangan pelindung, tak punya pembela.

Saya merasa butuh pertolongan, kemudian saya meminta tolong kepada senior A saya itu, dan senior A bilang, memang sistem pelaporan mereka yang buruk, data yang dikumpul tidak dilengkapi informasi yang memadai, jadi bila grafiknya menunjukkan pola tertentu pun sangat banyak faktor yang mempengaruhinya, dan informasi faktor-faktor apa sajanya pun tak dicatat.

Saya merasa lega, sesaat sampai kemudian saya mendengar bahwa ternyata pernyataan senior A itu hanya untuk menghibur saya. Di belakang saya dia berkata kepada rekan saya yang lain bahwa saya hanya bisa menggambar grafik, dan pekerjaan kami bukan untuk menggambar grafik. Semuanya memang benar, tetapi mengapa dia tidak menyebutkan alasan ketidak bisa-an saya? mengapa semua pernyataan mengenai kurangnya informasi yang menyertai data itu tidak disebutkan? Dan kalau memang letak kesalahan itu ada pada saya, mengapa dia tidak bilang saja langsung ke saya?. Oh..

Dan saat ini, saya telah dipecat dari penanggung jawab pekerjaan saya yang sebelumnya. Saya tetap mengerjakan proyek yang sama, hanya saja saya bukan lagi penanggung jawabnya. Saya sama sekali tidak bermasalah soal penggantian ini. Saya tahu sekali kemampuan saya, dan saya ingin belajar. Hanya saja saya sekarang sedang merasa di hempas karena perlakuan senior saya.

Kini saya bahkan merasa tidak sanggup melihat wajahnya, apalagi berusaha fokus untuk melanjutkan pekerjaan saya. Oh.. mungkin saya hanya butuh waktu untuk kembali menata hati dan pikiran saya sebelum senin kembali datang.