23rd January 2010, your 23rd birthday.
I`m sorry I have to be far away from you. I`m sorry..
I`m sorry I`m too lazy to buy telephone card so I did not call you in the middle of the night..
I`m sorry I`m not the first one to say happy birthday to you..
I`m sorry I did not say any wishes until you ask for it..
I`m sorry for being such as a very bad girlfriend ever for you..
I`m so sorry for always make you insecure..
I`m so sorry for always make you sad..
I`m so sorry for several big fight that made you loss control of yourself..
I`m so sorry.. that you seems like always begging, asking me to love you as much as you always do it for me..
I`m so sorry that in this relationship we are not even.. You too much give and so do I.. too much take.
I`m sorry.. I`m sorry.. I don`t know how many sorrys i have to say to you. For 4 years of whatever that you always give to me to make me happy. I`m so sorry.
All I can say is sorry.. sorry.. sorry.. I don`t want you to be afraid of loosing me, that always make you weak and i always hate it. And i realize that all of this is not your fault, i made you feel it. My attitude made it. I`m a selfish jerk girlfriend. I knew it since i asked you to be mine selfishly.
I don`t know what to do now.. When you ask my feelings.. I don`t know.. I don`t wanna loose you.. And i really do not wanna loose you. That is all i can say.. Not changed.. like 4 years ago.. when you asked me, i just could say that I need you.. selfishly..
And this is me.. Just can say sorry for you.. selfishly..
Sunday, January 24, 2010
Cooking heals heart..
Saya sebenarnya tidak suka masak, apalagi bisa. hehe.. Tapi sejak hidup di sini (baca Jepang) saya jadi sering masak. Alasan saya jadi sering masak adalah :
(teri kacang ikan asin)
(ikan asin tumis bayam)
(ayam balado)
(balado ati ampela)
Dan mungkin ini bisa jadi alasan saya jadi sering masak yang terakhir :
4. Memasak membuat saya bahagia.
Iya.. seperti yang sudah saya bilang sebelumnya bahwa saat memasak saya seperti sedang mengerjakan proyek besar, menyenangkan, penuh tantangan, dan setiap selesai masak, melihat bentuk masakannya saja sudah bisa membuat saya puas apalagi saat saya merasa kalau makanan yang saya masak enak (padahal bentuknya ga ada bagus-bagusnya sama sekali dan rasanya pun sama disetiap masakan karena bumbunya sama semua, hee..).
Memasak sekarang sudah seperti obat hati saya, akhir-akhir ini, sejak saya selalu merasa tidak bisa meng-handle masalah di kantor, sejak senior saya pernah bilang kalau saya tidak ada gunanya pergi ke Indonesia untuk mengerjakan proyek itu, sejak senior saya bilang kalau saya terlalu banyak menerima gaji dari kantor karena saya tidak menghasilkan apapun, sejak semua pekerjaan yang saya telah buat tidak pernah dia ikut sertakan untuk dipresentasikan, sejak itu saya seperti melampiaskan semuanya saat memasak. Sepertinya saya ingin menampis semua kata-kata itu dengan menunjukkan kalau saya bisa menghasilkan sesuatu, dan saya belum dapat ide untuk itu lewat karya saya di kantor, jadi saya lampiaskan saja lewat memasak. Memasak sepertinya sudah menjadi proyek hiburan saya.
Sebenarnya, saya biasanya cukup bercerita untuk menghilangkan sedih saya, tetapi jarak dan kesibukan masing-masing sudah membuat kebiasaan bercerita ini jadi sulit dilanjutkan. Dan saya sepertinya sudah terbiasa dengan kondisi ini. Bukannya saya jadi tidak butuh bercerita, saya tetap butuh, tetapi saya tidak mau memaksakan diri, saya harus bisa sendiri, inikan salah satu resiko pergi jauh.
1. Kalau beli di luar mahal.
Iya.. kalau beli diluar, saya biasanya mengeluarkan sekitar 1000 yen buat makan besar. kalau dirupiahkan dengan nilai tukar 1 yen = 100 rupiah berarti saya harus keluar 100 ribu rupiah setiap kali makan. Yaaa.. sebenarnya si wajar-wajar saja dengan pendapatan yang saya terima, tidak mahal tapi juga sangat tidak murah. Tapi kalau saya harus mengeluarkan 1000 yen setiap kali makan ya tekor juga, apalagi kalau saya bandingkan nilai uang itu kalau saya hidup di Indonesia, hehe.. Jadilah saya agak-agak sayang kalau harus sering-sering makan diluar.
2. Di luar makananya ga enak kalau bukan babi.
Iya.. rasanya itu kalau gak hambar ya asam. Tidak enaaak!. Jadi kalau pada bilang makanan Jepang enak, itu makanan Jepang yang di Indonesia saja mungkin. Karena rasa makanannya sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Saya sudah beberapa mencoba beberapa makanan baik di kantin kantor atau di restoran, tentunya yang boleh saya makan, dan saya tidak pernah suka. Sekali-sekalinya saya makan spagheti di kantin restoran dan itu enaaaak sekali tapiii ternyata eh ternyata itu ada babinya hahaha..
3. Malas pergi keluar malam-malam.
Iya.. malas sekali! Sudah mahal dan tidak enak, apalagi yang menyemangati saya untuk naik sepeda melawan angin dingin winter menuju tempat makan terdekat?. Paling jawabannya cuma kalau sedang bosan berada di apartemen dan lagi pengen jalan-jalan. Itu pun berarti sebenarnya saya bukannya sengaja pergi keluar untuk makan, tetapi karena saya ingin jalan-jalan jadi saya harus makan diluar kalau sudah lapar.
Begitulah.. sepertinya saya terpaksa sekali ya untuk masak. Tapi-tapi akhir-akhir ini saya jadi sukaa sekali masak. Perasaan suka ini sudah ada sejak sebulan yang lalu. Entah kenapa memasak itu rasanya bisa bikin saya senang sekali. Mulai dari memilih bahan makanan untuk dimasak, memotong-motong bawang dan sayuran, menentukan mana bahan yang harus dimasak terlebih dahulu, menebak-nebak takaran garam, merica dan bumbu penyedap, menentukan kombinasi warna masakan (kalau warna-warni jadi cantik dan seru kan.. hehe) dan menebak-nebak itu masakan sudah cukup matang apa belum. Rasanya seperti sedang mengerjakan sebuah proyek besar!. Haha berlebihan memang, apalagi jika melihat kenyataan bahwa bumbu yang saya pakai disetiap masakan itu tidak jauh-jauh dari bawang merah, bawang bombay, bawang putih, cabai, garam, merica, bumbu penyedap, dan sudah cuma itu saja. Apapun bahannya, mau itu sayuran, kentang, ikan teri, ayam, nasi goreng, mau itu di sayur bening atau goreng biasa, semuanya cuma pakai bumbu itu. Oiya, saya lupa menyebutkan satu bumbu andalan saya, terasi. Iya.. ini beberapa hasilnya :
Iya.. kalau beli diluar, saya biasanya mengeluarkan sekitar 1000 yen buat makan besar. kalau dirupiahkan dengan nilai tukar 1 yen = 100 rupiah berarti saya harus keluar 100 ribu rupiah setiap kali makan. Yaaa.. sebenarnya si wajar-wajar saja dengan pendapatan yang saya terima, tidak mahal tapi juga sangat tidak murah. Tapi kalau saya harus mengeluarkan 1000 yen setiap kali makan ya tekor juga, apalagi kalau saya bandingkan nilai uang itu kalau saya hidup di Indonesia, hehe.. Jadilah saya agak-agak sayang kalau harus sering-sering makan diluar.
2. Di luar makananya ga enak kalau bukan babi.
Iya.. rasanya itu kalau gak hambar ya asam. Tidak enaaak!. Jadi kalau pada bilang makanan Jepang enak, itu makanan Jepang yang di Indonesia saja mungkin. Karena rasa makanannya sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Saya sudah beberapa mencoba beberapa makanan baik di kantin kantor atau di restoran, tentunya yang boleh saya makan, dan saya tidak pernah suka. Sekali-sekalinya saya makan spagheti di kantin restoran dan itu enaaaak sekali tapiii ternyata eh ternyata itu ada babinya hahaha..
3. Malas pergi keluar malam-malam.
Iya.. malas sekali! Sudah mahal dan tidak enak, apalagi yang menyemangati saya untuk naik sepeda melawan angin dingin winter menuju tempat makan terdekat?. Paling jawabannya cuma kalau sedang bosan berada di apartemen dan lagi pengen jalan-jalan. Itu pun berarti sebenarnya saya bukannya sengaja pergi keluar untuk makan, tetapi karena saya ingin jalan-jalan jadi saya harus makan diluar kalau sudah lapar.
Begitulah.. sepertinya saya terpaksa sekali ya untuk masak. Tapi-tapi akhir-akhir ini saya jadi sukaa sekali masak. Perasaan suka ini sudah ada sejak sebulan yang lalu. Entah kenapa memasak itu rasanya bisa bikin saya senang sekali. Mulai dari memilih bahan makanan untuk dimasak, memotong-motong bawang dan sayuran, menentukan mana bahan yang harus dimasak terlebih dahulu, menebak-nebak takaran garam, merica dan bumbu penyedap, menentukan kombinasi warna masakan (kalau warna-warni jadi cantik dan seru kan.. hehe) dan menebak-nebak itu masakan sudah cukup matang apa belum. Rasanya seperti sedang mengerjakan sebuah proyek besar!. Haha berlebihan memang, apalagi jika melihat kenyataan bahwa bumbu yang saya pakai disetiap masakan itu tidak jauh-jauh dari bawang merah, bawang bombay, bawang putih, cabai, garam, merica, bumbu penyedap, dan sudah cuma itu saja. Apapun bahannya, mau itu sayuran, kentang, ikan teri, ayam, nasi goreng, mau itu di sayur bening atau goreng biasa, semuanya cuma pakai bumbu itu. Oiya, saya lupa menyebutkan satu bumbu andalan saya, terasi. Iya.. ini beberapa hasilnya :
(balado ati ampela)Dan mungkin ini bisa jadi alasan saya jadi sering masak yang terakhir :
4. Memasak membuat saya bahagia.
Iya.. seperti yang sudah saya bilang sebelumnya bahwa saat memasak saya seperti sedang mengerjakan proyek besar, menyenangkan, penuh tantangan, dan setiap selesai masak, melihat bentuk masakannya saja sudah bisa membuat saya puas apalagi saat saya merasa kalau makanan yang saya masak enak (padahal bentuknya ga ada bagus-bagusnya sama sekali dan rasanya pun sama disetiap masakan karena bumbunya sama semua, hee..).
Memasak sekarang sudah seperti obat hati saya, akhir-akhir ini, sejak saya selalu merasa tidak bisa meng-handle masalah di kantor, sejak senior saya pernah bilang kalau saya tidak ada gunanya pergi ke Indonesia untuk mengerjakan proyek itu, sejak senior saya bilang kalau saya terlalu banyak menerima gaji dari kantor karena saya tidak menghasilkan apapun, sejak semua pekerjaan yang saya telah buat tidak pernah dia ikut sertakan untuk dipresentasikan, sejak itu saya seperti melampiaskan semuanya saat memasak. Sepertinya saya ingin menampis semua kata-kata itu dengan menunjukkan kalau saya bisa menghasilkan sesuatu, dan saya belum dapat ide untuk itu lewat karya saya di kantor, jadi saya lampiaskan saja lewat memasak. Memasak sepertinya sudah menjadi proyek hiburan saya.
Sebenarnya, saya biasanya cukup bercerita untuk menghilangkan sedih saya, tetapi jarak dan kesibukan masing-masing sudah membuat kebiasaan bercerita ini jadi sulit dilanjutkan. Dan saya sepertinya sudah terbiasa dengan kondisi ini. Bukannya saya jadi tidak butuh bercerita, saya tetap butuh, tetapi saya tidak mau memaksakan diri, saya harus bisa sendiri, inikan salah satu resiko pergi jauh.
Untungnya saya masih punya kompor, panci, penggorengan, talenan, pisau, bawang-bawangan, bumbu penyedap, dan terasi yang bisa membantu saya menghibur diri. Kini mereka partner kerja saya yang loyal, paling kalau mereka ingin menegur saya karena tidak bisa mengerjakan ‘‘proyek‘‘ dengan benar mereka hanya bisa jadi gosong, dan itu pun tetap menghibur saya hehe..
Yeah.. cooking heals my heart..
Friday, November 27, 2009
deep drowning..
Semua orang pasti pernah merasa berada di titik paling bawah.
Sedih tak terbendung. seperti tak tertolong.
Dada seperti sulit bernafas, air mata pun rebutan ingin keluar.
Saya merasa sekarang berada di kondisi itu.
Rasanya saya sudah tidak kuat lagi.
Dan kalau sudah begini saya hanya ingin pulang ke Indonesia.
Pekerjaan saya memang sulit, rasanya sudah sering itu diakui oleh orang-orang yang mengetahui kondisinya. Terutama rekan kerja saya, senior saya lebih tepatnya, sebutlah dia itu Senior A. Diantara tim saya yang bersama-sama melakukan proyek ini, saya memang yang paling muda, dan tidak berpengalaman. Iya, proyek ini adalah proyek kerja pertama saya.
Sekilas tentang pekerjaan saya, pada dasarnya memang persoalannya memang rumit. Bahkan Senior A sering bilang `Dari pekerjaan di seluruh perusahaan ini yang paling susah itu pekerjaan di divisi kita, dan dari semua proyek di divisi kita ini, yang paling susah adalah proyek team kita`. Pertama kali mendengarnya, aku masih merasa itu hanya sebuah muslihat untuk mentriger saya agar berusaha sangat keras. Tetapi setelah 4 periode dan menjelang persiapan periode selanjutnya saya makin merasa hal tersebut benar.
Sekilas proyek sulit ini memang bukan hal yang mustahil untuk berhasil. Tetapi perbedaan budaya kerja dua negara ini yang membuat tim ini benar-benar tertekan. Bekerja di Jepang, membuat tuntutan pekerjaan yang dibebankan ke tiap pekerjanya sangat tinggi. Dan hal itu tak luput dari beban yang dikirimkan ke tim kami. Mungkin jika proyek tersebut juga dikerjakan di pabrik Jepang, segala target dan planning itu bisa berjalan dengan lancar. Tapi proyek kami adalah proyek yang ditujukan kepada pabrik Indonesia, bahkan pabrik terburuk di Indonesia mungkin jika dilihat dari segi efisiensi kerjanya.
Tak pelak segala rencana kami itu dibuat berantakan oleh keadaan disana, segala meeting tak berkesimpulan (sudah meetingnya terlambat, banyak bicara, tapi tetap tak berkesimpulan, tak ada data yang dibawa), banyak kesepakatan tak ditepati. Sebenarnya jika proyek ini gagal pun seharusnya tak masalah, tak semuanya harus berhasil, itu pun atasan-atasan kami tau. Tapi pastinya atasan kami pun perlu tahu alasan dibalik tak berhasilnya proyek ini. Dan untuk menjawab hal itu perlu data-data yang memadai, tapi data-data yang saya terima sering tak bisa berbicara, bahkan saya sering meragukan kebenarannya. Grafik demi grafik saya buat, mencoba menganalisa, tapi semua yang saya buat hanya memunculkan sebuah bentuk yang mirip benang kusut. Oh rasanya saya ingin menambahkan pernyataan Senior A dengan `dan diantara pekerjaan yang ada di proyek ini, pekerjaan sayalah yang paling sulit`. Semua bilang begitu, dan manager pabrik disana pun menyarankan tim kami untuk fokus ke pekerjaan saya. Tetapi mereka belum sempat menyentuh-nyentuh pekerjaan saya karena masih berkutat di areanya sendiri. Alhasil saya tetap stuck.
Saya yang tidak berpengalaman dan satu-satunya yang bukan orang Jepang disini hanya sendirian, dan hey.. Sudahkan saya sebut bahwa leader tim kami menghilang karena merasa putus asa? saya tidak bercanda. Leader kami memang menghilang tidak masuk kerja sudah hampir dua bulan. Leader saya yang ganteng dan pintar itu depresi setelah dimarahi bos karena perkembangan proyek kami yang tidak memuaskan. Dan selain saya, hanya dia yang benar-benar tahu pekerjaan saya. Saya seperti kehilangan pelindung, tak punya pembela.
Saya merasa butuh pertolongan, kemudian saya meminta tolong kepada senior A saya itu, dan senior A bilang, memang sistem pelaporan mereka yang buruk, data yang dikumpul tidak dilengkapi informasi yang memadai, jadi bila grafiknya menunjukkan pola tertentu pun sangat banyak faktor yang mempengaruhinya, dan informasi faktor-faktor apa sajanya pun tak dicatat.
Saya merasa lega, sesaat sampai kemudian saya mendengar bahwa ternyata pernyataan senior A itu hanya untuk menghibur saya. Di belakang saya dia berkata kepada rekan saya yang lain bahwa saya hanya bisa menggambar grafik, dan pekerjaan kami bukan untuk menggambar grafik. Semuanya memang benar, tetapi mengapa dia tidak menyebutkan alasan ketidak bisa-an saya? mengapa semua pernyataan mengenai kurangnya informasi yang menyertai data itu tidak disebutkan? Dan kalau memang letak kesalahan itu ada pada saya, mengapa dia tidak bilang saja langsung ke saya?. Oh..
Dan saat ini, saya telah dipecat dari penanggung jawab pekerjaan saya yang sebelumnya. Saya tetap mengerjakan proyek yang sama, hanya saja saya bukan lagi penanggung jawabnya. Saya sama sekali tidak bermasalah soal penggantian ini. Saya tahu sekali kemampuan saya, dan saya ingin belajar. Hanya saja saya sekarang sedang merasa di hempas karena perlakuan senior saya.
Kini saya bahkan merasa tidak sanggup melihat wajahnya, apalagi berusaha fokus untuk melanjutkan pekerjaan saya. Oh.. mungkin saya hanya butuh waktu untuk kembali menata hati dan pikiran saya sebelum senin kembali datang.
Sedih tak terbendung. seperti tak tertolong.
Dada seperti sulit bernafas, air mata pun rebutan ingin keluar.
Saya merasa sekarang berada di kondisi itu.
Rasanya saya sudah tidak kuat lagi.
Dan kalau sudah begini saya hanya ingin pulang ke Indonesia.
Pekerjaan saya memang sulit, rasanya sudah sering itu diakui oleh orang-orang yang mengetahui kondisinya. Terutama rekan kerja saya, senior saya lebih tepatnya, sebutlah dia itu Senior A. Diantara tim saya yang bersama-sama melakukan proyek ini, saya memang yang paling muda, dan tidak berpengalaman. Iya, proyek ini adalah proyek kerja pertama saya.
Sekilas tentang pekerjaan saya, pada dasarnya memang persoalannya memang rumit. Bahkan Senior A sering bilang `Dari pekerjaan di seluruh perusahaan ini yang paling susah itu pekerjaan di divisi kita, dan dari semua proyek di divisi kita ini, yang paling susah adalah proyek team kita`. Pertama kali mendengarnya, aku masih merasa itu hanya sebuah muslihat untuk mentriger saya agar berusaha sangat keras. Tetapi setelah 4 periode dan menjelang persiapan periode selanjutnya saya makin merasa hal tersebut benar.
Sekilas proyek sulit ini memang bukan hal yang mustahil untuk berhasil. Tetapi perbedaan budaya kerja dua negara ini yang membuat tim ini benar-benar tertekan. Bekerja di Jepang, membuat tuntutan pekerjaan yang dibebankan ke tiap pekerjanya sangat tinggi. Dan hal itu tak luput dari beban yang dikirimkan ke tim kami. Mungkin jika proyek tersebut juga dikerjakan di pabrik Jepang, segala target dan planning itu bisa berjalan dengan lancar. Tapi proyek kami adalah proyek yang ditujukan kepada pabrik Indonesia, bahkan pabrik terburuk di Indonesia mungkin jika dilihat dari segi efisiensi kerjanya.
Tak pelak segala rencana kami itu dibuat berantakan oleh keadaan disana, segala meeting tak berkesimpulan (sudah meetingnya terlambat, banyak bicara, tapi tetap tak berkesimpulan, tak ada data yang dibawa), banyak kesepakatan tak ditepati. Sebenarnya jika proyek ini gagal pun seharusnya tak masalah, tak semuanya harus berhasil, itu pun atasan-atasan kami tau. Tapi pastinya atasan kami pun perlu tahu alasan dibalik tak berhasilnya proyek ini. Dan untuk menjawab hal itu perlu data-data yang memadai, tapi data-data yang saya terima sering tak bisa berbicara, bahkan saya sering meragukan kebenarannya. Grafik demi grafik saya buat, mencoba menganalisa, tapi semua yang saya buat hanya memunculkan sebuah bentuk yang mirip benang kusut. Oh rasanya saya ingin menambahkan pernyataan Senior A dengan `dan diantara pekerjaan yang ada di proyek ini, pekerjaan sayalah yang paling sulit`. Semua bilang begitu, dan manager pabrik disana pun menyarankan tim kami untuk fokus ke pekerjaan saya. Tetapi mereka belum sempat menyentuh-nyentuh pekerjaan saya karena masih berkutat di areanya sendiri. Alhasil saya tetap stuck.
Saya yang tidak berpengalaman dan satu-satunya yang bukan orang Jepang disini hanya sendirian, dan hey.. Sudahkan saya sebut bahwa leader tim kami menghilang karena merasa putus asa? saya tidak bercanda. Leader kami memang menghilang tidak masuk kerja sudah hampir dua bulan. Leader saya yang ganteng dan pintar itu depresi setelah dimarahi bos karena perkembangan proyek kami yang tidak memuaskan. Dan selain saya, hanya dia yang benar-benar tahu pekerjaan saya. Saya seperti kehilangan pelindung, tak punya pembela.
Saya merasa butuh pertolongan, kemudian saya meminta tolong kepada senior A saya itu, dan senior A bilang, memang sistem pelaporan mereka yang buruk, data yang dikumpul tidak dilengkapi informasi yang memadai, jadi bila grafiknya menunjukkan pola tertentu pun sangat banyak faktor yang mempengaruhinya, dan informasi faktor-faktor apa sajanya pun tak dicatat.
Saya merasa lega, sesaat sampai kemudian saya mendengar bahwa ternyata pernyataan senior A itu hanya untuk menghibur saya. Di belakang saya dia berkata kepada rekan saya yang lain bahwa saya hanya bisa menggambar grafik, dan pekerjaan kami bukan untuk menggambar grafik. Semuanya memang benar, tetapi mengapa dia tidak menyebutkan alasan ketidak bisa-an saya? mengapa semua pernyataan mengenai kurangnya informasi yang menyertai data itu tidak disebutkan? Dan kalau memang letak kesalahan itu ada pada saya, mengapa dia tidak bilang saja langsung ke saya?. Oh..
Dan saat ini, saya telah dipecat dari penanggung jawab pekerjaan saya yang sebelumnya. Saya tetap mengerjakan proyek yang sama, hanya saja saya bukan lagi penanggung jawabnya. Saya sama sekali tidak bermasalah soal penggantian ini. Saya tahu sekali kemampuan saya, dan saya ingin belajar. Hanya saja saya sekarang sedang merasa di hempas karena perlakuan senior saya.
Kini saya bahkan merasa tidak sanggup melihat wajahnya, apalagi berusaha fokus untuk melanjutkan pekerjaan saya. Oh.. mungkin saya hanya butuh waktu untuk kembali menata hati dan pikiran saya sebelum senin kembali datang.
Saturday, September 19, 2009
Di keheningan takbir...
Instead of stairing this loneliness.. when all moslem are busy with the takbiran, with new clothes and maybe with opor and ketupat.. the routine that i used to do before i moved here.. but Now..
Tidak ada gemuruh beduk dan suara takbir, hanya suara jangkrik krik..krik..krik.. Di keheningan ini saya berfikir, akankah aku kembali suci esok hari? dengan semua dosa yang kuperbuat selama ini..??
mungkin Allah yang pemaaf dengan mudah bisa memaafkanku.. Begitupulakah dengan kalian?? Walau tak bisa bertatap muka dan berjabat tangan, saya memohon Minal Aidin Wal Faizin.. Hanya atas maaf kalianlah aku bisa kembali suci seperti bayi..
Semoga bisa bertemu ramadhan lagi..
Tidak ada gemuruh beduk dan suara takbir, hanya suara jangkrik krik..krik..krik.. Di keheningan ini saya berfikir, akankah aku kembali suci esok hari? dengan semua dosa yang kuperbuat selama ini..??
mungkin Allah yang pemaaf dengan mudah bisa memaafkanku.. Begitupulakah dengan kalian?? Walau tak bisa bertatap muka dan berjabat tangan, saya memohon Minal Aidin Wal Faizin.. Hanya atas maaf kalianlah aku bisa kembali suci seperti bayi..
Semoga bisa bertemu ramadhan lagi..
Friday, September 18, 2009
In Japan.. Resume..
akhirnya isi blog lagi..
halo semua yang masih mau mampir hahaha...
this is the first thing i wrote this blog from the place i had to live in 3 years from last January..
JAPAN..
Yap! saya sudah 9 bulan menjadi ekspaktriat bahasa kerennya atau alien di negeri sakura ini. Iya..!! Alien!! itu memang istilah yang biasa digunakan oleh orang Jepang untuk menyebut orang asing. Kartu penduduk asing pun di beri nama `certificate of alien regristration`.
Ngapain saya disini?
Saya bekerja. alhamdulillah saya adalah salah satu dari angkatan pertama program Engineering Development Program for Indonesia yang diusung Perusahaan yang menggaji saya. Program ini mengharuskan saya dan 10 teman saya yang lain untuk menimba ilmu di negeri Sumo ini selama 3 tahun. Menimba pengalaman kerja bersama-sama orang-orang Jepang disini, belajar cara kerja mereka, etos kerja, cara bekerja sama, pola pikir dan tentu saja bahasa. Lalu setelah 3 tahun kami harus mengabdi di Indonesia selama 5 tahun, tentu saja bukan semata-mata buat Indonesia, di Indonesia memang, tapi tentu saja itu demi perusahaan saya juga, karena pangsa pasar terbesar dan tentunya keuntungan terbesar mereka dapatkan dari Indonesia. Jadi program ini tampaknya adalah investasi mereka untuk meraih keuntungan lebih banyak lagi dari ladang keuntungan utama mereka yaitu Indonesia. Begitu rencananya...
Sudah ngapain saja saya??
Terhitung sudah 3 musim saya rasakan. Duinginnya musim dingin atau Fuyu, indahnya sakura di musim semi atau haru, dan gerahnya musim panas atau natsu. Tinggal warna-warni daun musim gugur atau biasa disebut aki nih yang belum dialamin. sebentar lagi.. sebentar lagi.. atau 3 bulan lagi saya genap 1 tahun berada di sini.
Selain training, belajar dan belajar tentunya juga ada jalan-jalan doong..
Dalam setahun ada 3 kali libur panjang yaitu libur golden week saat musim semi, diisi dengan barbeque, mancing, ikut perayaan atau matsuri, dan melihat gunung fuji. Semuanya berkat ajakan para pengasuh program kami.
Selanjutnya ada libur musim panas, yang ini tepat segera saya pulang berdinas ke Indonesia. Yap. Alhamdulillah. Saya memang beruntung. Tidak seperti teman-teman yang lain, sampai saat ini sudah tiga kali saya mengunjungi Indonesia. Untuk bekerja tentunya, bahasa kerennya business trip lah.. hihi.. meskipun harus berjuang melawan jetlag saat kerja karena pengaturan jadwal yang padat, saya sangat senang sekali karena saya bisa melihat ibu, ayah, dan adik saya, dan tentunya pacar saya.. hihi.. hanya tinggal kakak saya saja yang belum sempat saya lihat. Masih sibuk di Bandung.
Berkaitan dengan bussiness trip ini, pacar saya memberitahu bahwa orang-orang yang mendengar cara bekerja saya ini menjadi terkagum-kagum. Tidak heran si, karena sepintas memang kedengarannya demikian. Setengah bulan bekerja di Jepang dan setengah bulannya lagi bekerja di Indonesia.. what a life?? seems like I am an important person right?? hehehe..
Jujur saya pun merasa demikian, betapa beruntungnya saya. Selain bisa mengunjungi Indonesia secara gratis tiap bulan, saya juga merasa beruntung karena dipercaya untuk mengambil bagian penting dari proyek besar ini. Hey, saya ini belum punya pengalaman loh?? tidak takut gagal apa mempercayai saya?. Dan mereka selalu memuji saya, walaupun menurut saya pekerjaan saya tidak membuahkan hasil, mereka tetap memberikan support. Baiknya supervisor dan senpai saya. Mereka ganteng-ganteng loh, dan baik hati. Si Leader sangat ganteng dan pintar, sayang sudah punya dua anak. Nah si Senpai lumayan ganteng, dan masih single serta baru putus dari pacarnya yang di Italy, sangat amat lucu, menyenagkan, perhatian, dan baik hati, sayang rada sinting. Mereka berdua menjadi pelengkap kebahagiaan saya. Selain karena sering ditraktir makan malam, mereka juga selalu memberi support yang buanyaaaaak sekali terutama soal membawakan barang-barang saya yang buanyak kalo habis dari Indonesia.. hehehehe.. Tidak-tidak, bercanda-bercanda.. support kerjaan tiada tara sungguh yang luar biasa.
Balik lagi ke soal jalan-jalan saat libur, saat libur musim panas ada dua rencana dahsyat yang sudah di canangkan jauh-jauh hari. yaitu mendaki gunung fuji dan pergi ke Tokyo untuk melihat Tokyo Tower dan tentu saja Disneyland!! rasanya tidak afdol ya kalo ke Jepang tidak ke Tokyo dan ke Gunung fuji.. ya gak sii?? lumayan sukses jalan-jalannya, kecuali yang mendaki gunung fuji, selain karena bendera merah putih yang dibawa jauh-jauh dari Indonesia itu tertinggal di apartement, cuaca yang buruk membuat kami hanya bisa melihat kabut. Alhasil pendakian dibatalkan.
Tinggal satu libur panjang lagi yang belum dirasakan.. Libur akhir tahun.. teman-teman sebagian besar berencana pulang ke Indonesia, sudah pada beli tiket, tiketnya sudah di tangan pula katanya. Tetapi saya tidak pulang, karena sudah sering bolak-balik kan, tapi sebenernya sih emang pingin ngerasain hiruk pikuk tahun baru di luar negeri, hehe kedengarannya norak ya??
Tetapi memang itu alasannya,, Sebentar lagi Batari dan Ubi juga akan datang kesini, saya akan mencanangkan untuk merasakan malam pergantian tahun bersama mereka. Harusnya si sang pacar ikutan juga, tetapi pacar lebih memilih mengunjungi saya tahun depan saja saat musim semi. Semoga jadi saja semuanya... amiiin..
After all.. saya mengucap syukur tak terhingga atas rahmat Tuhan yang luar biasa menimpa saya saat ini. Sungguh saya amat merasa sangat beruntung.
Tinggal di luar negeri tidak pernah menjadi impian saya. Apalagi dapat gaji bukan rupiah.. jauh diluar dugaan saya.
Meski banyak pula kesedihan melanda, berantem besar misalnya hingga tidak sapaan sampai saat ini (ya..ya.. aku tahu ini aib tapi ini adalah masalah terbesar saya sampai saat ini dan belum juga ada cahaya terang yang menunjukan ini akan berakhir), atau seperti saat ini menyendiri saat malam-malam mendekati lebaran saat yang lain sedang bercengkerama dengan keluarga tercinta setelah berjam-jam mengikuti hiruk pikuk mudik. Jujur saya saat ini sedang bersedih karena tidak bisa membantu mama menjaga toko yang sedang ramai pengunjung. Bersedih karena membayangkan tidak bisa mencium tangan dan pipi mama papa sesudah solat ied untuk sungkem. Bersedih.. homesick.. sungguh sedih..
Tapi.. Karena itulah saya menulis ini.. Mengurutkan semua keberuntungan yang Allah berikan untuk saya selama ini.. Agar saya mengingat kembali bahwa tak sepatutnya saya sering bersedih.. Karena saya beruntung..
Ya.. saya beruntung.. jadi nikmatilah hidupmu Uqi..
dan Nikmat Tuhanmu yang mana lagi kah yang engkau dustakan??
Lets say.. Alhamdulillah..
halo semua yang masih mau mampir hahaha...
this is the first thing i wrote this blog from the place i had to live in 3 years from last January..
JAPAN..
Yap! saya sudah 9 bulan menjadi ekspaktriat bahasa kerennya atau alien di negeri sakura ini. Iya..!! Alien!! itu memang istilah yang biasa digunakan oleh orang Jepang untuk menyebut orang asing. Kartu penduduk asing pun di beri nama `certificate of alien regristration`.
Ngapain saya disini?
Saya bekerja. alhamdulillah saya adalah salah satu dari angkatan pertama program Engineering Development Program for Indonesia yang diusung Perusahaan yang menggaji saya. Program ini mengharuskan saya dan 10 teman saya yang lain untuk menimba ilmu di negeri Sumo ini selama 3 tahun. Menimba pengalaman kerja bersama-sama orang-orang Jepang disini, belajar cara kerja mereka, etos kerja, cara bekerja sama, pola pikir dan tentu saja bahasa. Lalu setelah 3 tahun kami harus mengabdi di Indonesia selama 5 tahun, tentu saja bukan semata-mata buat Indonesia, di Indonesia memang, tapi tentu saja itu demi perusahaan saya juga, karena pangsa pasar terbesar dan tentunya keuntungan terbesar mereka dapatkan dari Indonesia. Jadi program ini tampaknya adalah investasi mereka untuk meraih keuntungan lebih banyak lagi dari ladang keuntungan utama mereka yaitu Indonesia. Begitu rencananya...
Sudah ngapain saja saya??
Terhitung sudah 3 musim saya rasakan. Duinginnya musim dingin atau Fuyu, indahnya sakura di musim semi atau haru, dan gerahnya musim panas atau natsu. Tinggal warna-warni daun musim gugur atau biasa disebut aki nih yang belum dialamin. sebentar lagi.. sebentar lagi.. atau 3 bulan lagi saya genap 1 tahun berada di sini.
Selain training, belajar dan belajar tentunya juga ada jalan-jalan doong..
Dalam setahun ada 3 kali libur panjang yaitu libur golden week saat musim semi, diisi dengan barbeque, mancing, ikut perayaan atau matsuri, dan melihat gunung fuji. Semuanya berkat ajakan para pengasuh program kami.
Selanjutnya ada libur musim panas, yang ini tepat segera saya pulang berdinas ke Indonesia. Yap. Alhamdulillah. Saya memang beruntung. Tidak seperti teman-teman yang lain, sampai saat ini sudah tiga kali saya mengunjungi Indonesia. Untuk bekerja tentunya, bahasa kerennya business trip lah.. hihi.. meskipun harus berjuang melawan jetlag saat kerja karena pengaturan jadwal yang padat, saya sangat senang sekali karena saya bisa melihat ibu, ayah, dan adik saya, dan tentunya pacar saya.. hihi.. hanya tinggal kakak saya saja yang belum sempat saya lihat. Masih sibuk di Bandung.
Berkaitan dengan bussiness trip ini, pacar saya memberitahu bahwa orang-orang yang mendengar cara bekerja saya ini menjadi terkagum-kagum. Tidak heran si, karena sepintas memang kedengarannya demikian. Setengah bulan bekerja di Jepang dan setengah bulannya lagi bekerja di Indonesia.. what a life?? seems like I am an important person right?? hehehe..
Jujur saya pun merasa demikian, betapa beruntungnya saya. Selain bisa mengunjungi Indonesia secara gratis tiap bulan, saya juga merasa beruntung karena dipercaya untuk mengambil bagian penting dari proyek besar ini. Hey, saya ini belum punya pengalaman loh?? tidak takut gagal apa mempercayai saya?. Dan mereka selalu memuji saya, walaupun menurut saya pekerjaan saya tidak membuahkan hasil, mereka tetap memberikan support. Baiknya supervisor dan senpai saya. Mereka ganteng-ganteng loh, dan baik hati. Si Leader sangat ganteng dan pintar, sayang sudah punya dua anak. Nah si Senpai lumayan ganteng, dan masih single serta baru putus dari pacarnya yang di Italy, sangat amat lucu, menyenagkan, perhatian, dan baik hati, sayang rada sinting. Mereka berdua menjadi pelengkap kebahagiaan saya. Selain karena sering ditraktir makan malam, mereka juga selalu memberi support yang buanyaaaaak sekali terutama soal membawakan barang-barang saya yang buanyak kalo habis dari Indonesia.. hehehehe.. Tidak-tidak, bercanda-bercanda.. support kerjaan tiada tara sungguh yang luar biasa.
Balik lagi ke soal jalan-jalan saat libur, saat libur musim panas ada dua rencana dahsyat yang sudah di canangkan jauh-jauh hari. yaitu mendaki gunung fuji dan pergi ke Tokyo untuk melihat Tokyo Tower dan tentu saja Disneyland!! rasanya tidak afdol ya kalo ke Jepang tidak ke Tokyo dan ke Gunung fuji.. ya gak sii?? lumayan sukses jalan-jalannya, kecuali yang mendaki gunung fuji, selain karena bendera merah putih yang dibawa jauh-jauh dari Indonesia itu tertinggal di apartement, cuaca yang buruk membuat kami hanya bisa melihat kabut. Alhasil pendakian dibatalkan.
Tinggal satu libur panjang lagi yang belum dirasakan.. Libur akhir tahun.. teman-teman sebagian besar berencana pulang ke Indonesia, sudah pada beli tiket, tiketnya sudah di tangan pula katanya. Tetapi saya tidak pulang, karena sudah sering bolak-balik kan, tapi sebenernya sih emang pingin ngerasain hiruk pikuk tahun baru di luar negeri, hehe kedengarannya norak ya??
Tetapi memang itu alasannya,, Sebentar lagi Batari dan Ubi juga akan datang kesini, saya akan mencanangkan untuk merasakan malam pergantian tahun bersama mereka. Harusnya si sang pacar ikutan juga, tetapi pacar lebih memilih mengunjungi saya tahun depan saja saat musim semi. Semoga jadi saja semuanya... amiiin..
After all.. saya mengucap syukur tak terhingga atas rahmat Tuhan yang luar biasa menimpa saya saat ini. Sungguh saya amat merasa sangat beruntung.
Tinggal di luar negeri tidak pernah menjadi impian saya. Apalagi dapat gaji bukan rupiah.. jauh diluar dugaan saya.
Meski banyak pula kesedihan melanda, berantem besar misalnya hingga tidak sapaan sampai saat ini (ya..ya.. aku tahu ini aib tapi ini adalah masalah terbesar saya sampai saat ini dan belum juga ada cahaya terang yang menunjukan ini akan berakhir), atau seperti saat ini menyendiri saat malam-malam mendekati lebaran saat yang lain sedang bercengkerama dengan keluarga tercinta setelah berjam-jam mengikuti hiruk pikuk mudik. Jujur saya saat ini sedang bersedih karena tidak bisa membantu mama menjaga toko yang sedang ramai pengunjung. Bersedih karena membayangkan tidak bisa mencium tangan dan pipi mama papa sesudah solat ied untuk sungkem. Bersedih.. homesick.. sungguh sedih..
Tapi.. Karena itulah saya menulis ini.. Mengurutkan semua keberuntungan yang Allah berikan untuk saya selama ini.. Agar saya mengingat kembali bahwa tak sepatutnya saya sering bersedih.. Karena saya beruntung..
Ya.. saya beruntung.. jadi nikmatilah hidupmu Uqi..
dan Nikmat Tuhanmu yang mana lagi kah yang engkau dustakan??
Lets say.. Alhamdulillah..
Tuesday, November 25, 2008
I'm Still Alive..!!
Judul tadi bukan karena saya baru terbangun dari keadaan kritis, koma hingga mendekati kematian (lho kok jadi serem gini..). Bukan..bukan.. saya memang baru terkutik lagi untuk menambahkan postingan di blog ini, setelah koma dari dunia perpostingan. Judul postingan ini hanya untuk menegaskan bahwa saya masih ingin posting lagi.
Kemana saya selama ini??
Yup. TUGAS AKHIR setebal 128 halaman yang harus saya selesaikan demi lulus oktober yang harus saya kejar selain demi orang tuaku tercinta juga harus benar-benar saya uber agar tidak dipecat, membuat saya harus semedi di dalam kamar kosan setelah seharian 4.5 jam penuh belajar bahasa Jepang yang lagi-lagi harus saya lakukan sungguh-sungguh demi tidak dipecat. Full dari Senin sampai Sabtu melakukan rutinitas -bangun pagi, kalo sempat mandi, berangkat les jam 8 pagi sampai jam 1, pulang, nyalain komputer, dan TUGAS AKHIR sampai badan ga kuat, lalu tidur- selama 3 bulan, akhirnya lulus juga saya dari ITB. Alhamdulillah....
Dan sekarang.. mumpung lagi kosong.. sembari menunggu saat-saat kerja rodi lagi di seberang sana yang Alhamdulillah diundur menjadi tanggal 7 Januari.. mumpung masih bisa pakai internet gratisan komputer LSIK, mumpung masih di Bandung, mumpung masih di Indonesia, dan mumpung sang pacar lagi latihan militer dan gak pulang ke bandung Minggu ini.. Saya pingin cerita, pamer, curhat, semuanya!! lagi..
Kemana saya selama ini??
Yup. TUGAS AKHIR setebal 128 halaman yang harus saya selesaikan demi lulus oktober yang harus saya kejar selain demi orang tuaku tercinta juga harus benar-benar saya uber agar tidak dipecat, membuat saya harus semedi di dalam kamar kosan setelah seharian 4.5 jam penuh belajar bahasa Jepang yang lagi-lagi harus saya lakukan sungguh-sungguh demi tidak dipecat. Full dari Senin sampai Sabtu melakukan rutinitas -bangun pagi, kalo sempat mandi, berangkat les jam 8 pagi sampai jam 1, pulang, nyalain komputer, dan TUGAS AKHIR sampai badan ga kuat, lalu tidur- selama 3 bulan, akhirnya lulus juga saya dari ITB. Alhamdulillah....
Dan sekarang.. mumpung lagi kosong.. sembari menunggu saat-saat kerja rodi lagi di seberang sana yang Alhamdulillah diundur menjadi tanggal 7 Januari.. mumpung masih bisa pakai internet gratisan komputer LSIK, mumpung masih di Bandung, mumpung masih di Indonesia, dan mumpung sang pacar lagi latihan militer dan gak pulang ke bandung Minggu ini.. Saya pingin cerita, pamer, curhat, semuanya!! lagi..
Tuesday, April 22, 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)